Komunitas Demokrasi

emblem_net

Komunitas Demokrasi

oleh Renny Masmada

IMG-20160520-WA0037_1_1

BhinnekaTunggal Ika tan hana dharma mangrwa, yang termaktub dalam kitab Sutasoma karya Rakawi Tantular, ternyata terbukti mampu mempersatukan perbedaan dalam bentuk apapun di seluruh persada Nusantara yang sangat heterogen ini. Setidaknya pada masa kejayaan Majapahit di era abad ke-13.

Semangat Bhayangkara yang melekat dalam dirinya telah membentuk Gajah Mada menjadi seorang tokoh sejarah yang tak lekang dimakan waktu. Sudah lebih dari enam ratus tahun sejak kematiannya, holy spirit tentang persatuan bangsa masih sangat up to date sampai saat ini.

Bahkan saat ini, ‘persatuan bangsa’ menjadi barang dagangan yang laku dijual oleh sekelompok komunitas yang menamakan dirinya ‘komunitas demokrasi’ yang datang dari belahan dunia di luar tlatah Nusantara. Demokrasi ala barat dengan cepat menggantikan budaya ‘demokrasi’ yang pernah kita miliki, yang terbukti mampu melahirkan kepercayaan diri sebagai anak bangsa bagi anak cucu pewaris tanah air tercinta ini.

Tapi sekarang, demokrasi yang datang belakangan ini menjadi begitu populer, sehingga kita menjadi sulit untuk memahami dan memaknainya, yang ciri-cirinya adalah menjadikan rakyat sebagai aset yang dapat diperjual-belikan, ukuran kuantitas demokrasi adalah seberapa banyak bisa membagikan uang sekadarnya kepada sebanyak-banyaknya rakyat bagi kepentingan komunitas, untuk menjadikan dan memilih para petinggi organisasi mereka menjadi ‘bangsawan’ yang kemudian punya wewenang untuk menguras sebanyak-banyaknya uang rakyat dengan menciptakan kebijakan-kebijakan dan implementasi jorok melalui tiga serangkai fungsi eksekutif-legislatif-yudikatif untuk kepentingan pribadi.

Demokrasi yang begitu bagus dan punya kearifan untuk menghargai rakyat dan masyarakat sebagai kekuatan suara tertinggi untuk menggarap negara, menjadi kehilangan makna, kebingungan ketika fungsi eksekutif, legislatif dan yudikatif tak lagi mampu memaknai dirinya sendiri. Dan demokrasi jadi kehilangan bentuk menjadi monarki konstitusional yang malu-malu.

Sangat menarik, ketika kita tahu Majapahit adalah kerajaan monarki absolut, namun konsep trias politica yang belum masuk dan mempengaruhi konsep pemerintahan saat itu, telah mempunyai nafas ‘trias politica’, dan terimplementatif dengan baik, bahkan terbukti mampu memberikan kontribusi positif bagi keberlangsungan negara saat itu. Majapahit mampu bertahan menjadi sebuah negara persatuan yang maju, adil, sejahtera, gemah ripah loh jinawi selama 170 tahun.

Bahkan, kemakmuran dan kemampuan Majapahit mengoptimalkan sumber daya alam di seluruh pelosok negeri justru menjadi nasib buruk sejarah. Bangsa-bangsa dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong menguras dengan rakus seluruh isi bumi tercinta ini, bukan itu saja, bahkan mencekoki anak-cucu pewaris bumi Nusantara ini dengan seabreg-abreg ideologi yang membuat anak bangsa tak lagi mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Demokrasi akhirnya hanya jadi alat untuk memperkaya diri dan melakukan praktek-praktek kekuasaan yang justru semakin menyengsarakan rakyat. Demokrasi telah kehilangan arah. Terutama terhadap bumi Nusantara ini, yang sudah memiliki konsep demokrasi dalam bentuk lain, namun mempunyai kekuatan filosofi kerakyatan yang terbukti mampu memberikan warisan berharga kepada bangsa dan tanah air tercinta ini, jauh sampai lebih dari enam ratus tahun lalu sejak bangsa ini sadar memiliki kekayaan persatuan dalam bentuk apapun.

Salam Nusantara..!
www.filmgajahmada.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>