TUNAS BARU KORUPSI

FBI_5net

TUNAS BARU KORUPSI

aku_n40a

Mampukah kita dengan rela mengakui bahwa racun korupsi sudah mulai mencekoki bukan saja para petinggi negara yang sangat rakus, tapi masyarakat terpencil yang seyogyanya imun terhadap kinerja korupsi.

oleh Renny Masmada

Korupsi telah menciptakan perpecahan dan ketidakmampuan memberdayakan aset bangsa. Kekayaan bangsa yang selama ini menjadi uforia, hanya untaian dongeng sebelum tidur.

Korupsi telah mengikis secara cepat kepercayaan diri bangsa untuk berhadapan dengan bangsa lain. Kita tak mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri. Korupsi telah melumpuhkan para penguasa negara ini tampil di panggung dunia, sementara rakyat tak lagi mampu menyuarakan hati nuraninya untuk memberikan kepercayaan pada para penguasa, karena kita semua adalah bagian tak terpisahkan dari kinerja korupsi dalam bentuk apapun.

Sepotong artikel di atas, kutulis dalam website ini dengan judul: ‘BUDAYA KORUPSI’, yang kupublikasikan pada awal Juni 2012.

Ada kemarahan tertahan, tapi aku tak mampu mengimplementasikannya. Kebegoan dan ketakutanku menghadapi kenyataan bahwa korupsi telah merasuki hampir seluruh lapisan masyarakat kita membuatku semakin bergidik dan tak mampu berangan-angan kapan bangsa ini  menjadi bangsa terhormat, setidaknya di mata keluarga sendiri.

Korupsi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kita tanpa sadar telah mulai memberikan ‘dosa waris’ kepada anak-anak kita yang sebenarnya adalah calon pewaris tahta di negara ini. Mampukah kita dengan rela mengakui bahwa racun korupsi sudah mulai mencekoki bukan saja para petinggi negara yang sangat rakus, tapi masyarakat terpencil yang seyogyanya imun terhadap kinerja korupsi.

Pemilihan lurah, kepala desa, kuwu dan seabreg-abreg pemilihan lainnya penuh muatan korupsi yang sangat transparan dan dilakukan secara terbuka tanpa rasa malu.

Sekolah dalam bentuk apapun, termasuk sekolah polisi dan tentara, institusi terhormat yang sebenarnya bersih dari praktek korupsi sangat transparan memuat kinerja dan praktek-praktek korupsi yang sangat memalukan. Sehingga dendam untuk mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan karena muatan korupsi tadi, menjadi tunas baru korupsi di kemudian hari dan seterusnya.

Kita tak lagi mampu membedakan korupsi dengan kewajiban.

Kita tak lagi mampu membedakan korupsi dengan peluang berbisnis.

Kita tak lagi mampu meyakinkan bahwa korupsi adalah racun yang mematikan bagi kedaulatan negara tercinta ini.

Kita tak lagi mampu menghargai diri kita dan keluarga kita berhadapan dengan bangsa lain yang mampu memberdayakan kemampuannya tanpa praktek-praktek korupsi.

Oh ya Tuhan, masih adakah kesempatan bagi kami untuk kembali sadar bahwa bangsa besar ini adalah bangsa yang sangat menghormati semangat keluhuran dan kearifan memaknai peradaban sebagai akar kebudayaan yang sudah lahir jauh sebelum korupsi begitu berkuasa di negara ini, negara yang dibangun dengan semangat holistik dan keyakinan bahwa tanah air tercinta ini adalah milik seluruh anak bangsa, tanpa terkecuali, yang bersih dari kerakusan para pelaku korupsi?

 Salam Nusantara..!

Renny Masmada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>