Film Bandung, Parijs van Java

emblem_net_1a

Film Bandung, Parijs van Java

oleh Renny Masmada

bpvj_4_kecil

rm_111

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, 13/12/2014, menggelar pertemuan dengan Produser (Tedi Hanuramada), Produser Eksekutif (Senny Bunyamin) dan Sutradara (Renny Masmada)  Film Bandung, Parijs van Java di H0tel Preanger, Bandung.

photo 2

 

 

photo 3Pertemuan yang dihadiri oleh Tokoh Masyarakat Bandung dan para pengusaha dari Bandung dan Jakarta itu jadi begitu menarik ketika Walikota Bandung dengan tegas mengatakan sangat mendukung produksi film ini, bahkan ikut main di film fenomenal ini, yang penting saya tidak dibayar, tegasnya.

Sebagai Walikota yang sangat perduli dengan kemajuan kotanya, Ridwan Kamil, yang ternyata penonton produktif film-film kelas dunia itu, sangat concern terhadap produksi film yang mengangkat nilai-nilai budaya bangsa, terutama kota Bandung.

Sebagai reinkarnasi salah satu budaya masyarakat Bandung, Film Bandung, Parijs van Java, diharapkan menjadi tontonan yang punya nilai sejarah sebagai holyspirit masyarakat Bandung berhadapan dengan geliat budaya, mode, ekonomi Eropa yang sangat inheren menyentuh sebagian urat nadi kehidupan di Bandung.

photo 4Nama Bandung, Parijs van Java muncul sejak tahun 1920-an, ketika bangsa Belanda (baca:Eropa) terus ‘meng-Eropakan’ Bandung yang berpusat di Braga sebagai kota yang bernuansa Eropa.

Pada zamannya, Braga dan sekitarnya menjadi ‘kota’ Eropa yang melahirkan pasar malam, apresiasi budaya Sunda dan Eropa, kuliner night, bahkan memunculkan nafas fashion yang menjadi sentra perhatian masyarakat Eropa dan para pejabat pemerintah.

Ide cerita yang dibangun oleh Tedi Hanuramada memberikan kekuatan story-Line skenario yang ditulis oleh Renny Masmada. Walau tidak bermaksud mengurai asal-usul nama Parijs van Java, kedua orang ini ditambah dengan seorang kawan lain, Priana Wirasaputra, sejak dua tahun lalu terus melakukanbehavioral approach terhadap kandungan kesejarahan pada sinopsis cerita.

Intrik, konflik dan karakter cerita sengaja difokuskan pada persoalan klasik, yaitu cinta, komedi, keputus-asaan dan miracle. Sehingga alur cerita jadi punya enrichment estetika.

Dengan lokasi syuting di Bandung, Jakarta, Amsterdam dan Paris, diharapkan film ini punya benang merah kesejarahan masa lalu, walau dikemas dengan bahasa kekinian.

Mohon doa, agar film ini punya daya estetika dan nilai jual tinggi.

Rencana Crew Pendukung Film ini adalah:

Ide Cerita/Produser: Tedi Hanuramada, Penasehat Produksi: Priana Wirasaputra, Produser Eksekutif: Senny Bunyamin, Line Producers: Mas Desta & Rangga Nala, Casting Director: Noe Farhan, Skenario/Sutradara; Renny Masmada, Design Produksi/Co-Sutradara: Ronny Mepet, Astrada: Binsar Sihombing & Ririe Madeline, Script: Dewie, Penata Laga: Hasan Bugis, Make-Up/Kostum: Cindy & Endah, Penata Artistik: Wasis, Penata Kamera: Joko Priono, Still Photo: Theo Masmada, Loader/Asst.Editor off Line: Nunu, Penata Suara: Oedin & Harry, Pimpro: Endra Hawe, Unit Manager: Daeng Rola, Asst. Unit Manager: Tubagus & Erry Hw, Artist Coordinator: Ida Jubaedah.

Theme Song: ‘Hey Bandung Kumaha Damang?’ cipt. Ebith Beat A

Salam Nusantara..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website